Hot Artikel

Kenapa Romantisme di Dalam Anime dan Manga Terasa Menyegarkan

 

Kenapa Romantisme di Dalam Anime dan Manga Terasa Menyegarkan


 

Kenapa Romantisme di Dalam Anime dan Manga Terasa Menyegarkan - Ada satu hal menarik yang sering kita rasakan ketika menonton anime atau membaca manga: romantismenya terasa berbeda. Bukan karena lebih heboh, bukan karena lebih manis secara visual, tapi karena ia terasa… jujur. Menyentuh dengan cara yang sederhana, bahkan kadang terasa pahit, canggung, dan tidak sempurna. Justru di situlah letak kesegarannya.

Romantisme dalam anime dan manga sering kali tidak berdiri di atas fondasi kecantikan fisik, kekayaan, status sosial, atau kecerdasan luar biasa. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang manusiawi: rasa kasihan, kebersamaan, ketidakberdayaan, kesetiaan, dan keputusan untuk tetap tinggal meski dunia tidak menjanjikan kebahagiaan instan.

Contoh paling klasik dan sering dianggap remeh adalah Doraemon.

Nobita dan Shizuka: Romantisme yang Tidak Ideal, Tapi Manusiawi

Jika kita melihat Doraemon secara sekilas, kisah cinta Nobita dan Shizuka tampak seperti lelucon. Nobita bukan karakter ideal dalam standar romantis apa pun. Ia tidak tampan, tidak pintar, tidak atletis, tidak kaya, dan tidak punya masa depan yang menjanjikan—bahkan oleh dirinya sendiri. Nobita adalah representasi kegagalan kecil yang berulang: malas, ceroboh, cengeng, dan sering membuat keputusan buruk.

Baca Juga Mengapa Kaizen Jepang Mirip dengan ajaran Islam

15 Shot Dasar Komik/Manga yang Bisa Dibuat AI Gratis Tanpa Login | Panduan Lengkap Sudut Kamera

 

Namun justru di sanalah letak kekuatan ceritanya.

Shizuka pada akhirnya menikah dengan Nobita bukan karena Nobita berubah menjadi pria sempurna. Ia tidak tiba-tiba menjadi jenius, tidak menjadi pahlawan, tidak menjadi pengusaha sukses. Alasan Shizuka menerima Nobita sangat sederhana dan sangat manusiawi: ia tidak tega membiarkan Nobita sendirian.

Ada satu kisah kunci yang dengan cerdas diletakkan oleh sang author: cerita ketika Nobita berusaha menyelamatkan Shizuka yang tersesat di pegunungan bersalju. Secara struktur naratif, kita mengira ini akan menjadi momen heroik—Nobita akhirnya menjadi pahlawan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Nobita datang dengan niat baik, tapi niat baik tidak selalu berujung pada hasil baik. Jaket tebal yang ia pakai menyerap air salju, membuat tubuhnya semakin berat dan dingin. Ia terpeleset karena kecerobohannya sendiri. Kacamata yang menjadi satu-satunya alat bantu penglihatannya hilang. Satu demi satu kemalangan menimpa Nobita, hingga pada titik tertentu ia bukan lagi penyelamat, melainkan beban.

Pada akhirnya, Nobita-lah yang justru diselamatkan oleh Shizuka.

Dan di sinilah romantisme itu muncul. Bukan romantisme “aku menyelamatkanmu”, melainkan romantisme “aku melihat kelemahanmu, dan aku tetap tinggal”.

Keputusan Shizuka untuk menikah dengan Nobita bukan keputusan rasional dalam standar dunia modern. Itu bukan keputusan berdasarkan prospek finansial atau stabilitas hidup. Itu adalah keputusan emosional yang lahir dari empati. Ia sadar bahwa tanpa dirinya, Nobita akan hidup sendirian, tersesat, dan terus jatuh. Dan Shizuka memilih untuk menjadi orang yang berdiri di sampingnya.

Romantisme semacam ini jarang kita temukan di media populer Barat.

Otoyomegatari: Romantisme dalam Bentuk Tanggung Jawab

Contoh lain yang jauh lebih dewasa dan subtil bisa kita temukan dalam manga Otoyomegatari. Di sini, romantisme tidak hadir dalam bentuk pengakuan cinta yang dramatis, tetapi dalam tindakan sehari-hari.

Amir, tokoh utama perempuan, menikah dengan Karluk yang usianya lebih muda darinya. Secara sosial dan biologis, ini adalah relasi yang tidak biasa. Namun sang author tidak menjadikannya sebagai konflik sensasional. Justru relasi ini ditampilkan dengan penuh kelembutan dan rasa tanggung jawab.

Ketika Karluk jatuh sakit dan demam, Amir merawatnya dengan sepenuh hati. Ia berjaga di malam hari, memastikan suhu tubuh suaminya stabil, mengawasinya dengan penuh kekhawatiran. Tidak ada dialog romantis berlebihan. Tidak ada adegan dramatis yang memaksa air mata. Hanya seorang istri yang tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi.

Inilah romantisme yang jarang dibicarakan: romantisme dalam bentuk menjaga, bukan memiliki. Romantisme yang lahir dari kesadaran bahwa cinta bukan selalu soal gairah, tetapi soal keberanian untuk bertanggung jawab atas keberadaan orang lain.

Anime dan Manga Melawan Pola Romantisme Klasik

Jika kita bandingkan dengan pola romantisme ala Disney klasik, perbedaannya sangat terasa. Dalam banyak cerita Barat, perempuan sering diposisikan sebagai sosok lemah yang menunggu diselamatkan. Sang pangeran datang dengan keberanian, ketampanan, dan status, lalu cerita berakhir dengan “hidup bahagia selamanya”.

Begitu pula dengan banyak drama modern—termasuk drama Korea—yang sering membangun romantisme di atas fondasi pria ideal: tampan, kaya, rapi, dan cerdas. Ini bukan berarti cerita-cerita itu buruk, tetapi pola tersebut menciptakan standar romantisme yang tidak realistis bagi kebanyakan orang.

Anime dan manga, sebaliknya, sering kali mengambil jalur yang lebih berisiko secara naratif. Mereka menampilkan karakter yang gagal, tidak ideal, bahkan menyebalkan. Namun justru karena itu, kisah cinta yang tumbuh di dalamnya terasa lebih dekat dengan kehidupan nyata.

Romantisme dalam anime dan manga sering tidak berbicara tentang “siapa yang pantas mendapatkan siapa”, melainkan tentang siapa yang memilih untuk tetap tinggal.

Romantisme sebagai Pilihan, Bukan Hadiah

Salah satu perbedaan mendasar antara romantisme anime/manga dan romantisme populer lainnya adalah cara cinta diposisikan. Dalam banyak cerita, cinta adalah hadiah. Hadiah untuk mereka yang tampan, sukses, atau heroik.

Dalam anime dan manga, cinta sering kali adalah pilihan sadar.

Shizuka memilih Nobita, bukan karena Nobita layak secara objektif, tetapi karena Shizuka tidak ingin membiarkannya menghadapi dunia sendirian. Amir memilih merawat Karluk, bukan karena kewajiban sosial semata, tetapi karena ia peduli pada kehidupan suaminya.

Romantisme seperti ini terasa menyegarkan karena ia tidak menghakimi. Ia tidak mengatakan, “Kamu harus sempurna dulu baru boleh dicintai.” Ia mengatakan, “Kamu tidak sempurna, tapi kamu tetap manusia.”

Kenapa Ini Relevan dengan Kita?

Di dunia nyata, kebanyakan dari kita lebih dekat dengan Nobita daripada pangeran Disney. Kita sering ceroboh, gagal, dan tidak tahu harus melangkah ke mana. Kita juga sering merasa tidak cukup pantas untuk dicintai.

Ketika anime dan manga menampilkan romantisme yang lahir dari empati, kesetiaan, dan kebersamaan dalam keterbatasan, kita merasa dilihat. Kita merasa bahwa cinta tidak selalu harus megah. Kadang, cinta cukup hadir dalam bentuk seseorang yang berkata, “Aku di sini.”

Dan mungkin, itulah alasan terbesar kenapa romantisme dalam anime dan manga terasa menyegarkan. Karena ia tidak menjual mimpi kosong. Ia menawarkan pemahaman.

Tidak ada komentar